Senin, 07 September 2015





Di rumah makan ini, beragam masakan pindang khas Sumatera Selatan bisa anda pilih. Mulai dari pindang ikan patin, pindang udang, pindang daging, dan lainnya. Ikan seluang goreng yang konon hanya hidup di Sungai Musi juga bisa dicicipi di sini. Namun, bersiaplah mengantre ketika datang ke rumah makan ini, terutama saat jam makan siang. Tak tanggung-tanggung, antrean bisa mencapai nomor 40. Padahal, harga yang ditawarkan juga tidak bisa dibilang murah. Pindang kepala ikan patin, misalnya, harganya sekitar Rp 40.000. Pindang udang harganya malah lebih mahal lagi, Rp 100.000 per porsi. Satu porsi berisi satu ekor udang satang yang besar. Sebagai gambaran, per kilogram udang satang yang besar isinya 3-4 ekor. Toh, tetap saja orang rela mengantre untuk menikmati pindang di rumah makan milik Tjek Asan ini.

Bisa ditebak, kelezatan rasa yang ditawarkan rumah makan inilah yang membuat para pelanggannya rela duduk nyaris berdesakan di tempat yang tak terlalu luas dan tak berpendingin udara, yang terletak di Jalan Angkatan 45 No 18, Palembang ini. Bahkan, menteri dan pejabat seperti Kapolda, Gubernur, dan lainnya pun harus rela ikut mengantre, karena Tjek Asan memang tidak mau membedakan pelayanan terhadap pengunjung. Atau kalau tidak, tamu Kapolda, Pangdam, maupun Gubernur yang datang ingin makan, Tjek Asan menawarkan makan di rumahnya saja. Selain untuk menjalin silaturahmi dan suasananya lebih kekeluargaan, juga agar tidak memakan tempat di rumah makannya, karena biasanya mereka datang berombongan besar, sehingga membuat pengunjung lain lama mengantre.


Tjek Asan berkisah, memiliki tujuh anak dengan kondisi ekonomi sangat pas-pasan membuatnya nekat hijrah bersama istrinya dari Prabumulih, Musi Rawas ke Palembang pada 1977. Ia lalu punya usaha kecil-kecilan, yaitu membeli kayu dan karet di Musi Rawas lalu membawanya ke Palembang untuk dijual. Mulanya, usaha berjalan lancar sampai akhirnya pada 1981 ia mendadak bangkrut karena peraturan baru yang diterapkan pemerintah. Tak mau menyerah dan tak punya pilihan, ia lalu belajar berjualan pindang ikan nyaris tanpa modal. Ia menyewa sebuah rumah yang bagian depannya berupa ruko semi permanen kecil di daerah Kamboja.

Ia bersyukur, pindang ikan patin yang dipelajarinya secara otodidak sejak kecil disukai pembeli. Hari pertama buka, ia menghabiskan delapan kilogram beras. Selain pindang ikan patin, yang ia jual awalnya adalah brengkes tempoyak, dan ikan seluang. Tjek Asan masih ingat, suatu hari Solichin GP yang tengah berombongan dengan para pengendara mobil antik masuk ke warungnya yang bersih untuk makan. Saat itu kebetulan, Solichin sedang membetulkan mobilnya di bengkel yang letaknya di seberang warung Tjek Asan.


Tak disangka, para tamu jauh ini minta tambah makan. Besoknya mereka datang lagi. Orang-orang yang melewati warungnya sampai bingung, melihat mobil-mobil antik berjejer dan pengendaranya dari kalangan atas, makan di warungnya. Dan setelah itu, Tjek Asan bersyukur, rerspons pelanggan warungnya makin bagus. Sayang, akhirnya warung sewaan itu dijual pemiliknya. Dua tahun di sana, Tjek Asan yang menambah tiga anak lagi setelah pindah ke Palembang, memindahkan warungnya ke Jalan Kapuas. Lalu, dua tahun kemudiannya lagi, ia kembali pindah dan menyewa rumah makan yang lebih besar di tempat yang sekarang. Empat tahun kemudian bangunan rumah makan itu berhasil dibelinya. Sejak pindah, menu pindang udang mulai ada. Meski luasnya tak seberapa, pelayanan yang cepat, bersih, dan rasa yang enak menjadi andalan rumah makan ini. Kini, Tazmi Jaya, anak keempat Tjek Asan yang meneruskan usahanya. Setiap kali memasak, Tjek Asan menekankan untuk selalu mencicipi dan jangan percaya pada takaran. Bila rasanya sudah pas, baru boleh dihidangkan

Lantaran makin ramai, kini diberlakukan sistem antrean dengan nomor saat mulai penuh. Banyak pramugari atau pejabat yang begitu turun pesawat langsung ke rumah makan ini dulu. Rumah makan ini memang tidak mau menerima pesanan meja pada jam makan, karena takut mengecewakan pelanggan yang sudah lebih dulu datang dan ingin segera dilayani. Dalam sekali belanja, Rumah Makan Pindang Musi Rawas bisa menyetok 300 kg ikan patin dan 1 kuintal udang satang dari Sungai Musi. Sementara kalau bulan puasa, pindang yang dimasak dalam sehari bisa lebih banyak. Air yang digunakan sampai menghabiskan 60 liter lebih. Dari usaha rumah makan ini, Tjek Asan berhasil menguliahkan semua anaknya.

0 komentar:

Posting Komentar