Selasa, 08 September 2015




Mi celor berarti mi yang dicelup-celupkan. Sebab, dalam proses pembuatannya, mi kuning basah bersama tauge dimasukkan ke dalam semacam wadah kecil dari aluminium bergagang panjang, lalu dicelup-celupkan ke dalam dandang besar berisi kuah mendidih, untuk dimatangkan. Mi yang digunakan berukuran besar, sedangkan tauge yang digunakan berukuran kecil. Setelah dicelup sampai setengah matang, mi dan tauge diletakkan di piring. Lalu diberi kuah dan topping, berupa kucai, bawang goreng, irisan telur rebus, dan udang rebus yang dicincang halus. Sementara, kuahnya berbumbu bawang merah, bawang putih,  dan cabe yang digiling halus lalu ditumis, kemudian dicampur dengan otak dan daging udang yang juga sudah digiling halus.

Agar setengah kental, Mi Celor 26 Ilir H.M. Syafei menggunakan terigu. Kalau ingin pedas, bisa menambahkan sambal. Rasanya gurih dan membuat ketagihan. Menurut Saida, putri dari H.M. Syafei, usaha ini sudah dirintis orangtuanya sejak 1950. Karena lokasinya di 26 ilir, maka sengaja dinamakan Mie Celor 26 Ilir H. M. Syafei, sesuai nama ayah Saida. Adapun, orangtuanya berjualan mi celor, mengikuti jejak bibi mereka yang sudah berjualan sejak dulu. Mulanya, Syafei dan istrinya berjualan di daerah Jalan Mujahidin. Saida sendiri mulai membantu ibunya menyiapkan bahan baku sejak remaja. Makin lama, usahanya makin laris sehingga cabang pertama dibuka di Jalan KH Ahmad Dahlan pada 1999, yang kini dikelola Saida.


Sedangkan cabang kedua baru dibuka Januari 2015 di Jalan Merdeka. Bumbu dan bahan baku untuk ketiga lokasi rumah makan ini dibuat dari dapur yang sama dan dikerjakan langsung oleh ibu Saida. Meski sudah memiliki dua cabang, lokasi pertama tetap laris. Pelanggan-pelanggan awal tetap datangnya ke sana, termasuk teman-teman orang tua Saida. Bahkan di lokasi pertama itu dulu menteri pun pernah datang ke sana. Sementara cabang kedua mulai buka pukul 06.30-19.30. Di sini Saida memiliki 15 pegawai yang membantu. Cabang kedua lebih dikenal sebagai tempat sarapan, oleh karena itu sudah dibuka sejak pagi. Sejak awal hingga sekarang resep mi celornya tak pernah berubah. Mi celor di sini hanya tahan 4-5 jam, karena tidak menggunakan pengawet. Begitu disajikan, harus langsung dimakan. Kalau ingin dibawa ke Jakarta, harus dibekukan dulu sehari sebelumnya, atau setelah sampai di sana harus langsung dimakan.

Pada masa Megawati menjadi presiden, sebulan sekali rumah makan ini mengirim mie celor pesanan ibu Megawati ke Jakarta. Karena Bapak (alm) Taufik Kiemas yang memang orang Sumatera Selatan, sangat menyukai mie celor. Pun demikian kalau ibu Megawati datang ke Palembang, pasti akan mampir ke sini. Seporsi mie celor yang biasa dihargai Rp 15.000, jumbo dengan 1,5 porsi Rp 23.000, dan yang spesial dengan tambahan udang giling dan telur rebus di atasnya Rp 43.000. Udang yang digunakan adalah udang satang yang berukuran besar. Dalam sehari, tiga lokasi rumah makan ini biasanya menghabiskan 50-70 kg mi. Pada hari libur, mi mencapai 100 kg dan pada musim liburan lebih banyak lagi. Gurihnya mi celor rumah makan ini membuat Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin menggemari mie celor ini sejak lama. Ada juga yang kalau pulang dari luar kota, tidak pulang ke rumah dulu, tapi langsung ke tempat ini. Kini, Saida yang merupakan anak sulung dari delapan bersaudara, yang mengelola penuh ketiga lokasi rumah makan ini, bersama  tiga adiknya.

1 komentar:

  1. Enaknya makan Mie celor di saat hujan, pasti bawaanya pengen nambah terus..

    BalasHapus