Minggu, 31 Mei 2015




Sesuai namanya, gudeg yang satu ini memiliki tempat bersantap yang unik, yaitu dapur yang dalam bahasa Jawa berarti pawon. Pada umumnya, orang merasa risih ketika bertamu dan bersantap di dapur tuan rumah karena dianggap kurang sopan. Namun, di Gudeg Pawon ini justru sebaliknya. Para tamu alias pembeli yang datang tidak masuk melalui pintu depan atau ruang tamu, melainkan langsung ke samping dan masuk ke dapur yang terletak di belakang rumah Wanto, di Jalan Janturan 36-38 Warungboto, Umbulharjo, Yogyakarta. Rumah sederhana yang memanjang ke belakang itu terletak di ujung gang kecil, sehingga pembeli bisa masuk lewat samping. Di depan pintu dapur, beberapa meja panjang dan bangku ditata di sebelah kanan dan kiri. Di sinilah para pembeli bisa menyantap gudeg yang telah mereka pesan sebelumnya di pawon sambil bercengkerama santai ditemani bintang-bintang di langit.



Pilihan lainnya, bila ingin merasakan sensasi menyantap gudeg yang dimasak Wanto ini, anda bisa menyantapnya langsung di dapur. Ada meja makan dengan beberapa kursi yang menempel di tembok dan bangku kayu tua di seberangnya yang bisa dijadikan tempat makan, mengingatkan pada dapur rumah-rumah tua. Para tamu justru lebih senang bersantap di dapur, karena bisa mengingatkan pada masa kecil. Tamu yang datang ada dari kalangan pejabat, mantan menteri, dan lainnya. Di dapur itu pula, Wanto dibantu adik, kakak, dan istrinya memasak gudeg dan melayani para pembeli malam harinya. Wanto sendiri belajar memasak dari almarhumah ibunya, Prapto Widarso. Semasa hidupnya, Prapto berjualan gudes sejak 1958. Kala itu, ia berjualan di Pasar Sentul setiap pagi. Wanto sendiri mulai membantu ibunya tahun 1995. Mulai 2000, Prapto berjualan di rumah. Setelah ibunya meninggal pada 2010, Wanto meneruskan usaha Gudeg Pawon.



Dulu, Gudeg Pawon mulai buka pukul 03.00, tapi lama kelamaan jam buka maju satu jam jadi pukul 02.00, dan begitu seterusnya hingga akhirnya sekarang buka pukul 21.30. Para pembelinya, termasuk pejabat, bupati, mantan menteri, dan artis tak komplain meski harus bersantap di pawon. Gudeg yang gurih dan basah karena berkuah menjadi keistimewaan Gudeg Pawon sejak pertama kali Prapto berjualan. Gudeg dan lauk pauknya dimasak sejak pagi hingga pukul 15.00. Setelah beristirahat, Wanto dan keluarganya menanak nasi pukul 20.00. Pukul 21.30, Gudeg Pawon mulai buka sampai habis. Tak jarang, tak sampai dua jam gudegnya sudah tidak tersisa dan membuat pembeli kecele. Wanto mengaku tiap berjualan ia melihat situasi. Bila sedang sepi, ia kurangi porsinya. Bila sedang ramai misalnya musim liburan, ia tambah. Jadi, setiap malam gudeg dan lauknya selalu habis.



Bila sedang sepi, Wanto menghabiskan 15 kg beras per malam. Namun, saat ramai jumlahnya bisa meningkat dua kalinya. Untuk lauk, ayah tiga anak ini menyediakan telur, ayam, dan ati ampela. Nasi gudeg dengan lauk ayam kampung harganya Rp 22.000, nasi gudeg telur Rp 10.000, sedangkan nasi gudeg dengan ati ampela atau paha Rp 16.000. Para pembelinya berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Mereka umumnya tahu dari internet, meski Wanto mengaku tidak pernah memasang iklan. Meski laris, Wanto tak mau ngoyo. Ia enggan menerima pesanan untuk acara tertentu karena merasa repot mengerjakannya. Selain itu, sesuai amanat ibunya, ia tak mau membuka cabang, meski tawaran banyak berdatangan, termasuk tawaran untuk membuka cabang di Jakarta atau kota lainnya. Bahkan pernah juga ada pembeli yang berniat membeli nama Pawon dengan ditawar seharga Rp 100 juta. Tapi Wanto tidak menerimanya. Karena Wanto masih memegang amanat ibunya yakni, berdagang cari untung secukupnya saja.

GUDEG PAWON

Jl. Janturan No. 36, Warungboto, Umbulharjo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55164, Indonesia
Phone:+62 274 7002020


0 komentar:

Posting Komentar