Minggu, 31 Mei 2015




Disebut Mbah Cemplung karena penjualnya memang seorang simbah (nenek) yang berasal dari kampung Cemplung dekat pabrik Madukismo di daerah Bantul, Yogyakarta. Mbah Cemplung sendiri sebenarnya bernama Rejowinangun. Menurut Dayat, yang kini mengelola warung ayam goreng Mbah Cemplung, alkisah Mbah Cemplung tak memiliki keluarga dan tempat tinggal. Ia akhirnya ikut menumpang tinggal di pekarangan milik orang tuanya di Dusun Sembungan, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul. Mbah Cemplung yang kemudian dianggap sebagai keluarga sendiri itu, lalu berjualan ayam kampung goreng di pekarangan rumah orangtua Dayat, yang kebetulan letaknya dekat sendang atau mata air yang sering dijadikan wisata ziarah. Awalnya, tahun 1980-an itu Mbah Cemplung berjualan ayam, minuman, dan makanan lainnya di warung yang sederhana. Dalam sehari, Mbah Cemplung hanya memotong 3-5 ekor ayam, yang dilakukannya sendiri sebelum dimasak.

Rasa ayam goreng Mbah Cemplung yang dianggap cocok di lidah para pembelinya segera menyebar dari mulut ke mulut. Makin lama, makin banyak pembeli yang datang berkunjung. Gubuk Mbah Cemplung pun tak lagi muat, sehingga pada awal tahun 2000 warungnya pindah ke tempat saat ini yang lebih luas. Sayang, tahun 2005 Mbah Cemplung meninggal. Usaha ini lalu diteruskan Dayat bersama ayahnya, yang sebelumnya memang sudah membantu Mbah Cemplung berjualan. Uniknya, pasca gempa tahun 2006, ayam goreng Mbah Cemplung justru semakin laris. Ceritanya, saat itu ayam goreng dalam jumlah banyak sudah disiapkan untuk dijual. Sayang, hari itu terjadi gempa besar sehingga pembeli tak ada yang datang. Akhirnya, ayam goreng itu dibagikan pada para pengungsi korban gempa di daerah itu. Sejak itu, ayam goreng berukuran besar ini makin dikenal dari mulut ke mulut. Bahkan, kini di seberang pekarangan yang dijadikan tempat parkir pembeli, juga didirikan warung lagi untuk menampung pembeli yang membludak, terutama saat liburan.


Ciri khas ayam goreng Mbah Cemplung, menggunakan ayam kampung liar yang beratnya lebih dari 1 kg tapi tak sampai 2,5 kg. Itu sebabnya, ayam terlihat besar, tapi dagingnya masih tetap empuk ketika digoreng. Bila kebanyakan masakan Yogyakarta bercita rasa manis, ayam goreng Mbah Cemplung rasanya gurih asin. Waktu disajikan disediakan pula dua sambal sekaligus, yaitu sambal matang dan sambal mentah yang juga merupakan peninggalan Mbah Cemplung. Cara memasaknya cukup unik. Ayam dipotong, lalu direbus bersama bumbu dan ditiriskan semalaman. Bumbu itu diracik sendiri oleh ibunda Dayat. Kemudian saat subuh esoknya, ayam kembali direbus dan siap untuk digoreng. Cara ini dilakukan agar rasa bumbu meresap ke dalam ayam. Tiap hari, warung buka sejak pukul 08.00-17.00 dengan menyediakan ayam potongan, kepala, maupun ingkung. Menariknya, kepala ayam dijual sekaligus memanjang sampai ekor. Harga masing-masing tergantung besar kecilnya ayam.

Ingkung berkisar Rp 100.000-Rp 170.000, dada Rp 25.000-Rp 35.000, paha Rp 20.000-Rp 35.000, kepala Rp 17.000-Rp 30.000. Kini dalam sehari warung yang memiliki 20 pegawai ini bisa menghabiskan 100 ekor ayam. Kalau masa liburan jumlahnya bisa mencapai 350 ekor per hari. Agar bisa mendapat stok, Dayat pun memberdayakan petani ayam kampung liar. Biasanya mereka menjual ayamnya ke warung Mbah Cemplung karena ada kebutuhan uang, misalnya arisan, anak sekolah, dan lainnya. Dayat pun kini tak perlu cemas soal bahan baku karena ia memiliki banyak pemasok. Pembeli ayam goreng Mbah Cemplung tak hanya berasal dari Indonesia, melainkan juga turis mancanegara yang kebetulan berkunjung ke Kasongan. Malum, lokasi warung Mbah Cemplung memang sangat dekat dengan Kasongan. Tiap kali ke Yogyakarta, para turis mancanegara itu selalu minta makan di warung Mbah Cemplung setiap siang selama tinggal di Yogyakarta. Pelanggan dari mancanegara itu ada yang dari Singapura, Kolombia, dan Australia.


Warung Mbah Cemplung pun makin terkenal, ketika ada seorang pemuda Yogyakarta yang berinisiatif menuliskan wisata kuliner tentang daerahnya di internet, termasuk di antaranya Mbah Cemplung. Kini, untuk mendekatkan diri dengan pelanggan, ayam goreng Mbah Cemplung telah membuka cabang di jalan lingkar selatan Madukismo, yang dikelola adik Dayat. Menurut anak sulung dari tiga bersaudara ini, banyak sebetulnya yang meminta Mbah Cemplung membuka cabang di luar kota, tapi orangtuanya belum membolehkan.

Ayam Goreng Mbah Cemplung
Address: Kasihan, Bantul Regency, Special Region of Yogyakarta, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar