Rabu, 10 Juni 2015




Dimulai tahun 2007 silam, Hana Fredyanto nekat membuka rumah makan dan menyajikan menu yang tidak biasa, yaitu beragam olahan entok. Entog atau entok adalah unggas yang masuk keluarga jenis bebek dan memiliki banyak nama. Dikenal juga dengan sebutan mentok dan serati, dalam bahasa Indonesia entok disebut itik Manila. Unggas ini memiliki ciri fisik berbulu badan hitam dan putih serta memiliki warna merah dan hitam di sekitar kulit matanya. Tubuh entok terlihat lebih besar dibanding bebek atau itik, sehingga entok kerap dipelihara untuk diambil dagingnya.

Entok yang cukup banyak ditemui di Cirebon dan sekitarnya ini membuka peluang usaha bagi pria yang kerap disapa Nana ini. Dulu, banyak orang yang suka memasak entok, tapi lama-kelamaan jadi malas mengolahnya. Memasak entok itu memang tidak mudah, karena dagingnya amis dan harus dimasak lama supaya empuk. Pedesan Entog menurut Nana awalnya adalah makanan para petani saat beristirahat di gubuk tengah sawah atau ladang. Bumbu masakan ini hanya ala kadarnya saja yang mungkin banyak ditemui di sekitar gubuk. Lama kelamaan masakan ini mulai dikenal masyarakat luas. Meski begitu, saat Nana membuka rumah makan ini nama Pedesan Entog masih belum umum.

Berada di Jalan Fatahillah, Weru, Cirebon, rumah makan ini juga menyediakan ayam dan bebek sebagai pengganti entok. Konsumen yang datang ada yang awalnya tidak menyukai entok. Tapi akhirnya mereka tertarik untuk mencoba. Dan ketika sudah mencoba justru jadi ketagihan. Karena masakan ini bukan masakan yang khusus Nana ciptakan, Nana tak pernah merahasiakan resep dapurnya. Dapurnya terbuka bagi siapa saja yang ingin melihat bagaimana caranya mengolah entok. Nana yakin, sebenarnya semua orang tahu bagaimana mengolah entok, tapi enggan untuk mengolah sendiri.



Menurut ayah tiga orang anak ini, setiap orang memiliki trik tersendiri dalam  mengolah entok. Nana memulai triknya sejak pemotongan, yakni mencuci daging dengan air mengalir. Semua itu ia temukan dari pengalaman saja. Hingga kini semua menu di rumah makannya masih diolah sendiri oleh Nana, dibantu sang istri. Setiap hari ia membutuhkan 200 ekor entok. Nana yang pernah menjadi supir bus Cirebon-Merak ini bersyukur, sekarang rumah makannya sudah semakin besar. Setiap hari libur kadang harus tutup lebih cepat karena sudah habis.

Diakui Nana, sudah sejak lama dirinya ingin membuka sebuah tempat makan. Tak disangka, melalui keahliannya mengolah entok, impiannya itu akhirnya terwujud. Dulu saat ia masih menjadi sopir bus, ia melihat rumah makan yang sering ia singgahi semakin lama semakin besar. Nana pun ingin pula bisa mengubah hidupnya dan tidak mau selamanya menjadi sopir. Apalagi menjadi sopir bus ia nyaris tidak ada waktu untuk keluarga. Ia harus berangkat kerja pagi-pagi, saat anak-anaknya masih tidur, dan pulang kerja malam hari, anak-anaknya pun sudah tidur.

Dengan modal usaha Rp 60.000 di tahun 2007, Nana bersyukur kini rumah makannya terus berkembang. Rahasia kesuksesannya adalah menyajikan makanan dengan cepat dan segar. Olahan hari ini harus habis untuk hari ini juga. Tidak boleh disajikan keesokan harinya. Jika ingin berbisnis kuliner, menurut Nana satu hal yang harus dihindari adalah jangan pernah mengecewakan pelanggan. Sejauh ini Nana mengaku tidak mendapat hambatan berarti dalam menjalankan usahanya. Pasokan entok sudah ada yang mengantar setiap hari. Rumah makannya pun setiap hari selalu ramai, terlebih pada hari libur. Bahkan, kalau bulan puasa pengunjung sampai antre panjang. Hal ini sering pula membuat Nana kasihan dengan karyawannya yang harus melayani pelanggan, padahal mereka juga harus berbuka puasa.

0 komentar:

Posting Komentar