Kamis, 23 April 2015



Rasanya belum lengkap jika ke Wonosobo bila tidak mencoba makanan khasnya, yaitu mi ongklok. Penampilannya mirip mi ayam, hanya saja makanan yang satu ini dicampur irisan kol dan daun kucai, lalu diguyur lau, sejenis kuah kental yang gurih. Biasanya, mi ongklok disantap bersama sate daging sapi. Salah satu penjual mi ongklok yang terkenal di Wonosobo adalah Warung Mi Ongklok Pak Muhadi.

Sebelum berjualan mi ongklok, Muhadi lama menjadi penjaja mi lau milik seorang pengusaha kuliner keturunan Tiongkok di kota berhawa dingin tersebut. Setelah keluar dari pekerjaannya, Muhadi lalu mengolah mi lau dan mencampurkannya dengan bumbu rempah-rempah lain, yang kemudian dikenal dengan nama mi ongklok. Setelah mahir meramu, pada tahun 1967 Muhadi mulai menjajakan mi ongklok berkeliling dari kampung ke kampung dengan pikulan.


Rupanya, banyak yang menyukai mi ongklok buatan Muhadi, sehingga usahanya laris. Setelah memiliki modal cukup, Muhadi tak lagi berkeliling kampung. Ia berjualan di sebuah warung yang sederhana dan sempit di pusat kota. Saat membuka warung itulah, Muhadi sangat kaget karena pembelinya ternyata membludak. Usahanya makin laris dan besar. Sejak itu, banyak orang mengikuti jejak Muhadi berjualan mi ongklok.

Anaknya pun ikut membantu usaha Muladi. Tahun 1989, Muhadi meninggal. Sejak itu warung mi ongkloknya diteruskan Mujiono Hadi, salah satu anaknya. Warung lalu dipindah ke Jalan Ahmad Yani No 1 yang bertahan hingga sekarang. Dalam mengelola usaha peninggalan orangtuanya, Mujiono mengaku tak mengubah rasa dan proses pembuatannya. Pembeli yang datang bisa melihat langsung saat pesanannya dibuat, karena Mujiono mengerjakan pesanan di bagian depan warung yang bisa menampung sekitar 60 pengunjung itu.
Mujiono Hadi, salah satu putra Pak Muhadi yang meneruskan berjualan mi ongklok
Di etalase kaca, Mujiono menyusun mi, kol, kucai, dan selada sayur yang sudah diiris. Proses pembuatannya pun cukup mudah. Pembeli bisa meminta tingkat kepedasan mi ongklok karena cabai rawit hijau langsung diulek di mangkuk yang akan disajikan. Lalu daun kucai, selada air, dan kol dimasukkan ke wadah bambu berukuran kecil dengan gagang panjang. Setelah diongklok-ongklok (dicelupkan beberapa kali) ke air mendidih, mi dimasukkan ke bambu dan dipadatkan di atasnya. Lalu kembali diongklok-ongklok ke dalam panci beberapa kali, setelah itu ditiriskan. Mi dan sayuran lalu dituang ke dalam mangkuk, disiram kuah lau hingga tergenang. Setelah itu, diberi kecap manis dan taburan bawang goreng. Terakhir,  mi disiram bumbu kacang. Mi pun siap disajikan bersama seporsi sate daging sapi yang baru dibakar ketika dipesan.

Lau sendiri merupakan sejenis kuah kental yang terbuat dari tepung kanji dengan bumbu kaldu ayam, bawang putih, merica, gula merah dan garam. Rasa lau yang gurih juga kuat akan merica. Sedangkan mi ongklok yang manis karena siraman bumbu kacang terasa pas dengan gurihnya sate sapi. Tak heran, Mi Ongklok Pak Muhadi setiap hari ramai dikunjungi pembeli, termasuk dari luar kota seperti Jakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, dan kota sekitar Wonosobo, bahkan para artis ibukota. Warung yang setiap hari buka pukul 11.00-21.00 juga menerima pesanan untuk hajatan, termasuk dari luar kota. 

0 komentar:

Posting Komentar