Sabtu, 21 Maret 2015




Sebagian orang mengatakan, belum ke Magelang kalau belum makan getuk. Salah satu getuk yang terkenal di sana adalah Getuk Gondok yang dijual Sri Rahayu sejak 1985. Rahayu merupakan generasi ketiga dari getuk merek tersebut, meneruskan usaha warisan nenek dan ibunya. Namun, kapan neneknya mulai berjualan getuk, Rahayu mengaku tak tahu. Yang jelas, saat itu dirinya masih kecil, dan belum sekolah.

Rahayu juga mengingat, neneknya menderita penyakit gondok di lehernya. Itu sebabnya getuk buatannya dinamai getuk Gondok. Setelah neneknya meninggal, ibunda Rahayu meneruskan usaha tersebut. Ibunya memiliki tujuh anak, lima di antaranya perempuan. Kelimanya lalu punya usaha getuk sendiri. Bahkan kini keponakan dan anak Rahayu pun juga mengikuti jejak nenek mereka.

Dulu, sebelum berjualan sendiri, Rahayu hanya membantu kakaknya membuat getuk. Lantaran ingin mandiri, ia pun akhirnya memilih berjualan sendiri. Awalnya, ia membuat 25-35 kg getuk per hari. Berangkat jualan pada pukul 07.00 WIB, dan pukul 14.00 sudah harus pulang karena saat itu  ia masih menyusui bayinya. Terkadang getuknya habis, terkadang juga sisa. Awalnya Rahayu menjajakan getuknya di depan Toko Panorama. Setelah bangunan Pasar Rejowinangun jadi dan ditata rapi, semua penjual yang sebelumnya di pinggir jalan sekitar pasar, termasuk Rahayu, harus masuk ke dalam pasar.

Sayangnya, saat menempati kios di lantai teratas, getuknya tak laku. Sehari, paling hanya laku Rp 10.000. Beruntung, akhirnya Rahayu mendapatkan kios di lantai dasar, satu di Blok B no 17, satunya lagi di Blok C. Tahun 2007, karena harus menjaga suaminya yang sakit, Rahayu tak lagi menjaga kios, bahkan hingga sekarang meski sang suami telah meninggal. Kini, kios Getuk Gondok ditungui oleh anak-anaknya.



Getuk Gondok dijual dalam kemasan kotak kardus dengan beberapa pilihan harga, yaitu Rp 5000, Rp 10.000, dan Rp 25.000. Sedangkan yang dibungkus dijual seharga Rp 3000 berisi delapan potong getuk. Getuk yang tiap malamnya dibuat pukul 01.00-07.00 WIB ini ada tiga macam, yaitu 1, 2, dan 4 warna. Ide membuat getuk dengan beragam warna ini dijelaskan Rahayu, karena ia melihat kue lapis beras yang menarik, berwarna-warni dan bertumpuk-tumpuk. Ia pun mencoba membuat getuk dengan cara itu. Kadang-kadang warna coklatnya ia beri gula merah.

Cara membuat getuk cukup sederhana. Agar menghasilkan getuk yang lembut dan enak, Rahayu sengaja memilih singkong yang masih mempur dengan usia 10 bulan. Ibu empat anak ini juga meggunakan gula pasir dan tak mau memakai pengawet. Itu sebanya, getuk yang dibuatnya harus habis hari itu juga, walau sebetulnya besoknya pun getuk itu tidak berubah kecut dan berair. Tapi Rahayu tetap pada prinsipnya yang tidak mau menjual makanan kemarin. Apalagi, pelanggan sudah tahu tempatnya berjualan, jadi orang akan mudah menemukannya kalau ingin komplain. Kalau sampai pelanggan kecewa karena getuknya tidak enak, Rahayu sendiri yang akan rugi, apalagi di pasar kini banyak saingan. Maka Rahayu memang perlu berhati-hati menjaga kualitas karena getuknya sudah dikenal banyak orang.



Berkat ketekunannya, kini getuknya laku tak kurang dari 150 kg per hari. Bila ada pesanan, pembuatan getuk bisa sampai 300 kg dalam sehai. Pesanan pun datang tak hanya dari Magelang, melainkan juga dari kota lain, termasuk Kebumen. Pesanan ini juga bukan untuk dijual lagi, melainkan untuk acara pribadi, misalnya pernikahan atau oleh-oleh untuk dibawa ke luar kota.

0 komentar:

Posting Komentar